Messy Middle
Messy Middle adalah fase dalam perjalanan konsumen (customer journey) ketika calon pembeli masih berada di tahap pertimbangan sebelum membuat keputusan pembelian. Pada fase ini, konsumen melakukan eksplorasi informasi, membandingkan produk, membaca ulasan, dan menimbang harga atau promo, sehingga jalannya tidak linear dan sering kali “messy”.
Asal-Usul Messy Middle
Konsep Messy Middle diperkenalkan melalui riset Google pada tahun 2020. Riset ini menemukan bahwa konsumen modern mengandalkan pengalaman digital yang kaya informasi untuk membuat keputusan, bukan sekadar iklan. Review, testimoni, konten media sosial, dan rekomendasi teman menjadi faktor utama yang memengaruhi pilihan pembelian.
Tahapan dalam Messy Middle
1. Triggers
Tahap awal ketika konsumen tersadar akan kebutuhan atau tertarik pada produk. Pemicu bisa dari iklan, influencer, rekomendasi teman, atau tren viral.
2. Exploration
Konsumen mencari informasi sebanyak mungkin: membuka banyak tab, membaca review, menonton video, hingga scrolling media sosial.
3. Evaluation
Konsumen mulai membandingkan opsi yang ada, menilai harga, kualitas, fitur, dan ulasan pengguna. Tahap ini memakan waktu karena ingin memastikan pilihan tepat.
4. Purchase
Tahap akhir ketika konsumen memutuskan untuk membeli, menekan tombol checkout atau menyelesaikan transaksi.
Faktor yang Mempengaruhi Messy Middle
Beberapa faktor utama:
- Informasi Digital Melimpah: Konsumen dapat mengakses berbagai sumber secara cepat, mulai dari artikel, video, hingga review influencer.
- Ulasan dan Testimoni: Review positif membangun kepercayaan; review detail membantu memahami pengalaman penggunaan.
- Rekomendasi Sosial: Opini teman, komunitas, atau influencer memengaruhi keputusan lebih cepat.
- Harga dan Promo: Konsumen cenderung membandingkan harga antar platform; promo atau gratis ongkir bisa menjadi pemicu pembelian.
Fungsi dan Manfaat Messy Middle
- Memahami perilaku konsumen di tahap pertimbangan
- Menjadi acuan brand untuk hadir di berbagai saluran digital
- Membantu strategi marketing berbasis social proof
- Memaksimalkan peluang influencer/KOL memberikan rekomendasi autentik
- Menyesuaikan konten dan promosi sesuai kebutuhan konsumen
Contoh Messy Middle
Seorang konsumen ingin membeli skincare:
- Terpicu iklan di media sosial
- Masuk tahap eksplorasi: membaca artikel, menonton review YouTube, scroll TikTok
- Masuk tahap evaluasi: bandingkan harga di e-commerce, cek ulasan teman
- Akhirnya melakukan checkout setelah beberapa jam atau hari
Brand harus hadir konsisten di semua touchpoint agar tetap relevan di Messy Middle.
FAQ tentang Messy Middle
Q : Apa itu Messy Middle?
A : Messy Middle adalah fase pertimbangan konsumen di mana mereka mencari informasi, membandingkan opsi, dan mengevaluasi produk sebelum membeli.
Q : Mengapa fase ini disebut “messy”?
A : Karena perjalanan konsumen tidak linear; mereka bolak-balik antara eksplorasi dan evaluasi sebelum membuat keputusan.
Q : Bagaimana brand bisa memanfaatkan Messy Middle?
A : Brand dapat hadir konsisten di berbagai saluran, menggunakan social proof dari review dan influencer, serta memberikan informasi yang relevan untuk mempermudah keputusan konsumen.
Q : Apa peran influencer/KOL dalam Messy Middle?
A : Influencer dan KOL memberikan rekomendasi yang autentik dan social proof, membantu mempercepat keputusan pembelian di fase pertimbangan.
Q : Faktor apa saja yang paling memengaruhi Messy Middle?
A : Informasi digital melimpah, ulasan dan testimoni, rekomendasi sosial, serta harga dan promo.
Kamus lain
Istilah terkait
A
A/B Testing
A/B Testing adalah metode eksperimen yang membandingkan dua versi konten atau elemen versi A sebagai kontrol dan versi B sebagai variasi unt...
BacaA
Affiliate Creatives for Ads (ACA)
Affiliate Creatives for Ads (ACA) adalah fitur di TikTok Shop yang memungkinkan seller menggunakan video milik affiliator sebagai materi ikl...
BacaA
Affiliate Link
Affiliate link adalah tautan unik yang berisi kode pelacakan untuk menghubungkan klik atau transaksi ke affiliator. Melalui link ini, brand ...
Baca